Senin, 25 Mei 2015

Internet, Antara Kebutuhan dan Peluang

Beberapa waktu yang lalu, bos Facebook, Mark Zuckenberg menemui Presiden Indonesia untuk memaparkan sebuah misi yang kelihatannya mulia. Mark Zuckenberg berencana untuk memperkenalkan proyek internet.org yang mengakomodir internet gratis untuk semua orang. Mulia bukan? 

Nah kini tampaknya proyek mulia tersebut telah terealisasi. Facebook bekerjasama dengan salah satu operator di Indonesia meluncurkan internet.org yang menyediakan akses gratis bagi beberapa situs. Kenapa cuma beberapa? Itulah permasalahannya.

Proyek Facebook ini dianggap hanya akal-akalan saja dengan alasan ingin menggratiskan internet. Ada beberapa hal yang disoroti, kenapa hanya beberapa situs saja dan kenapa hanya bekerjasama dengan satu operator seluler saja.

Menciptakan internet gratis memang merupakan tujuan yang mulia. Internet saat ini memang merupakan sebuah kebutuhan. Internet merupakan media penghubung komunikasi, bisnis dan gaya hidup masa kini. Namun, pentingnya kebutuhan internet saat ini tampaknya tidak diimbangi dengan harga yang terjangkau. Bayangkan saja, untuk browsing tiap hari, pengguna harus mengeluarkan ratusan ribu untuk membeli kuota internet.

Lain Facebook, lain pula program Opera Mini yang bekerja sama dengan vendor ponsel lokal. Program ini juga menawarkan akses internet gratis meski hanya tiga jam dan diperuntukkan bagi pengguna feature phone agar "tergoda" untuk menggunakan ponsel pintar.

Lagi-lagi program serupa seperti internet.org milik Facebook memiliki Syarat dan Ketentuan di belakangnya. Kebebasan akses internet secara bebas ini lebih kepada strategi bisnis demi meraih lebih banyak pengguna. 

Misal saja program internet.org. Saya melihat secara subyektif, proyek ini berupaya untuk meningkatkan jumlah pengunjung situs (traffic), ke Facebook dan situs-situs yang digratiskan tersebut. Tujuannya tentu saja agar meraih lebih banyak pendapatan melalui iklan. 

Win-win Solution Bagi Operator?

Lantas, apa timbal baliknya bagi operator yang bekerjasama dengan Facebook untuk "menggratiskan" layanan ini. Entahlah, namun tak mungkin juga mereka ingin rugi. Mungkin juga mereka mengejar pengguna layanan. Toh tak semua situs bisa diakses gratis, tak ada masalah menggratiskan beberapa.

Syarat dan Ketentuan program layanan internet gratis macam inilah yang kadang kurang jujur disampaikan. Kerahasiaan data yang tidak dijamin, serta keterbatasan akses menjadi masalah yang mengikuti program internet gratis ini.

Ada baiknya sebenarnya pengelola situs ataupun operator saling duduk mencari solusi tepat guna mendapatkan solusi yang saling menguntungkan. Konsumen bisa mengakses internet dengan harga terjangkau serta tanpa batasan. Bukan dengan akal-akalan internet gratis yang hanya menjadi strategi bisnis meraih peluang.