Kamis, 26 Februari 2015

Bijak dan Produktif Menggunakan Ponsel

Gaya hidup digital kini makin populer. Di era tahun 1990an, ponsel merupakan salah satu barang mewah, hanya beberapa orang yang memilikinya. Tarif telepon dan SMS pun kala itu masih terbilang mahal. Dan kala itu memang hanya menawarkan fungsi standar berupa telepon dan SMS. Penggunaan ponsel kala itu lebih pada alat telekomunikasi mobile yang menggantikan peran telepon rumah.

Perkembangan telekomunikasi semakin pesat. Kini, macam ponsel pun lebih variatif. Penggunaan ponsel kini pun tak terbatas sebagai alat telekomunikasi biasa. Ponsel kini menjadi bagian dari gaya hidup digital. Intensitas penggunaan ponsel pun meningkat, dari mulai bangun tidur hingga larut malam, bahkan di toilet pun ponsel masih tetap ada dalam genggaman.

Alat Pengatur Waktu

Hampir semua ponsel memiliki gitu alarm dan agenda. Tak perlu ponsel pintar (smartphone), ponsel biasa pun dapat digunakan mengatur waktu agar lebih teratur. Fitur alarm bisa digunakan untuk lebih teratur dan disiplin dalam mengatur waktu. Manfaatkan semaksimal mungkin fitur ini. Pasang alarm daru mulai waktu bangun tidur dan juga hal-hal penting lainnya. Pada smartphone juga tersedia banyak aplikasi alarm waktu sholat. 

Tentunya fitur alarm ini menjadi salah satu fungsi pada ponsel guna menjadi pribadi yang lebih teratur. Dengan fitur alarm ini pula, terkadang mengingatkan kita kala ada janji penting dengan orang lain dan rencana-rencana kegiatan lainnya.

Mencatat Hal-Hal Penting

Memori ataupun ingatan orang tentunya terbatas. Terkadang lupa hal-hal yang terbilang penting. Misalnya saja materi pekerjaan, nomor telepon, ataupun hal-hal remeh semacam tempat parkir dan lain sebagainya. Sebenarnya ponsel bisa digunakan sebagai solusi pemecahan hal tersebut. 

Mencatat yang saya maksud bisa berbentuk apapun, tidak terbatas hanya berupa tulisan, namun juga rekaman suara, video atau mungkin gambar. Semua itu bisa lebih praktis bila memanfaatkan ponsel. Materi saat rapat, seminar atau pertemuan bisa kita catat dalam bentuk tulisan, ataupun video dan suara, sehingga suatu saat dapat di-review kembali. Jadi, setelah ada ponsel, kenapa harus terlalu mengandalkan ingatan kita semata yang sangat terbatas?

Beberapa tempat khususnya di Jakarta, banyak gedung-gedung yang memiliki lahan parkir luas. Terkadang dengan luasnya lahan parkir tersebut, terkadang lupa tempat saat memarkir kendaraan. Padahal di setiap tempat parkir terdapat kode untuk membantu menunjukkan tepatnya kendaraan tersebut berada. Akan tetapi, kadang saat mengandalkan ingatan saja, kode parkir ini pun lupa, sehingga kesulitan saat mencai kendaraan. Dengan ponsel berkamera, sebenarnya masalah ini bisa diatasi. Tak perlu kamera dengan resolusi tinggi. Yang penting  gambar terlihat cukup jelas. Potret kode tempat parkir kendaraan, dan kala ingin ke tempat tersebut, kita tinggal melihat kembali gambar yang telah kita ambil tadi.

Aplikasi Bekerja di Manapun

Seperti kita maklum bersama, perkembangan teknologi berjalan semakin pesat. Ponsel kini tak hanya sebagai alat komunikasi semata. Kini, ponsel pun bisa menggantikan peran komputer. Ponsel bisa menjadi alat yang bisa digunakan untuk membantu pekerjaan sehari-hari. Dengan ponsel, pekerjaan tak hanya terbatas dilakukan di kantor semata.

Misalnya saja, aplikasi Office dan E-Mail, yang rata-rata ponsel pintar memilikinya. Melihat kembali dokumen pekerjaan untuk diedit, ataupun berkirim dokumen via E-Mail kini dapat dilakukan menggunakan ponsel. Produktifitas pekerjaan bisa meningkat ketika ponsel dapat dimanfaatkan secara maksimal karena pekerjaan dapat dilakukan di manapun.

Menggunakan Media Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial. Manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, saling berinteraksi satu sama lain. Hadirnya media sosial menjadi jembatan pemenuhan kebutuhan ini. Dengan media sosial, jarak geografis tak lagi menjadi masalah.

Media sosial menjadi bagian dari gaya hidup digital saat ini. Hampir setiap orang memiliki dan aktif di media sosial. Media sosial telah menjadi tempat berbagi apapun, sehingga penggunanya pun makin berkembang. Hanya saja, sebaiknya memaksimalkan media sosial untuk hal-hal positif sehingga tidak mengganggu produktivitas kerja. Karena media sosial haruslah menyenangkan.

Internet, Sumber Informasi

Ponsel saat ini dapat digunakan untuk mencari informasi karena terhubung melalui internet. Saat ini, internet merupakan sumber informasi utama. Hampir semua hal bisa dicari melalui internet. Dalam mencari informasi apapun, internet selalu siap sedia menjadi rujukan. Jadi, sudah tidak jamannya lagi menjadi pribadi yang kurang update dengan situasi terkini. 

Peta Digital 

Penggunaan GPS maupun peta digital di ponsel sungguh sangat membantu. Mungkin ada ungkapan, malu bertanya sesat di jalan. Namun kini, dengan bantuan GPS serta peta pada ponsel, seseorang lebih nyaman dan mudah dalam mencari tempat yang diinginkan. Bahkan, dari sisi keakuratan, tampaknya peta digital bisa diandalkan daripada bertanya pada orang yang belum kita kenal.

Ponsel kini merupakan alat memudahkan segala urusan manusia. Akan tetapi, setiap penggunaan sesuatu tentunya haruslah bijak dan dikendalikan. Ponsel mampu membantu kita lebih produktif dalam keseharian dan pekerjaan. Namun, seperti pisau bermata dua, bila terlalu kebablasan, ponsel justru menyita waktu produktivitas dan juga waktu untuk beristirahat. Lebih bijak dalam menggunakan adalah kuncinya. Ponsel merupakan benda yang kita miliki, sehingga kitalah yang mengendalikannya, bukan sebaliknya.

Rabu, 25 Februari 2015

Berpikir Sebelum Memposting

Di tengah kemacetan di jalanan Jakarta, saya terinspirasi untuk menulis tulisan ini. Saya tertarik untuk ikut mengomentari isu terkini yang menyeret Puteri Indonesia 2015 yang di-bully setelah memposting foto di Instagram yang memperlihatkan dirinya memakai kaos bergambar palu arit yang identik dengan simbol Partai Komunis Indonesia (PKI), organisasi ataupun paham yang dilarang keberadaannya di Indonesia.

Ada hal yang menarik, ternyata tingkat pendidikan tidak begitu mempengaruhi kedewasaan dalam menggunakan media sosial. Kasus-kasus yang terkait media sosial beberapa diantaranya justru menimpa seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi. Ambil contoh kasus mahasiswi S2 yang dianggap menghina sebuah kota, hingga yang terbaru, seperti yang menimpa Puteri Indonesia tadi.

Menjadi Puteri Indonesia bukanlah status yang sembarangan. Menjadi Puteri Indonesia tentulah mengalami proses seleksi yang ketat dan bukan orang sembarang. Dan mengingat posisinya sebagai publik figur, tentunya apa yang terjadi dan apa yang dilakukannya dia bisa menyadari bisa menjadi pembicaraan publik.

Terlepas dari usianya yang masih muda, dan mungkin saja tidak begitu faham dan tahu akan makna simbol palu arit, posting di media sosial bisa sangat sensitif, apalagi jika dilakukan oleh seorang publik figur sekelas Puteri Indonesia. Namun, sekelas Puteri Indonesia tampaknya aneh jika dirinya tidak tahu akan hal ini. Sebagai seorang Puteri Indonesia, tentunya dia menguasai negaranya dan belajar lebih mengenal tentang Indonesia. Bukankah menjadi Puteri Indonesia, konon tak hanya berdasar kategori cantik secara fisik semata?

Saya tak perlu terlalu jauh membahas hal tersebut. Namun, kembali pada cara memposting sesuatu di media sosial, membangunkan kita untuk kembali berhati-hati dan berpikir saat menulis. Seperti kita paham bersama, media sosial merupakan tempat publik. Setiap posting ataupu sesuatu yang kita bagi di media sosial, akan menjadi konsumsi publik. Dampak dari posting tersebut pun akan menjadi ramai.

Kebebasan menyatakan pendapat melalui media sosial memang dijamin. Orang berhak untuk memposting sesuatu apapun ke akun media sosialnya. Akan tetapi, setiap kebebasan tentunya memiliki batasan. Media sosial juga bisa menjadi sarana informasi untuk belajar. Kasus kaos palu arit tadi misalnya, sisi positif dengan merebaknya kejadian ini, menjadi momentum untuk mencari informasi terkait makna simbol tersebut. Namun tentunya tida perlu kita menunggu ada kasus demikian baru belajar untuk mengetahuinya.

Kejadian-kejadian di atas menjadi pelajaran bagi kita semua. Menulis status media sosial yang bukan hal kita kuasai perlu kita pikirkan. Kita pemegang penuh tombol send dan delete akun kita tersebut. Maksimalkan saja agar penggunaan media sosial bisa menjadi hal yang positif.

Popularitas di Media Sosial

Suatu Sore diantara linimassa Twitter saya, ada yang share sebuah link membahas hal yang cukup menarik. Di artikel tersebut, membahas seorang yang populer di Twitter atau lebih dikenal dengan selebtwit. Berbeda dengan selebtwit yang lain, untuk seseorang ini terbilang cepat untuk populer. Dan ternyata, popularitasnya didapat dengan cara menjiplak kutipan (quote) orang lain serta membeli follower sebagai modal.

Setiap Orang Populer dengan Caranya

Sah-sah saja mengejar popularitas. Pun tak hanya di dunia nyata, di media sosial juga ingin sekali menjadi terkenal. Hanya saja, popularitas bukanlah hal pokok dan utama dalam bermedia sosial. Apalagi jika popularitas didapat dengan cara tidak jujur seperti mengaku-aku karya ataupun kutipan orang lain seolah merupakan ciptaannya. Sungguh, itu bukanlah hal yang etis bermediasosial.

Paling pokok, media sosial adalah tempat berinteraksi. Satu sama lain memiliki kesempatan mengutarakan pendapatnya. Satu sama lain juga ingin didengar pendapatnya. Menjadi populer mungkin menyenangkan, namun itu seolah mengkerdilkan makna dan maksud bermediasosial sebagai tempat berinteraksi, jika hanya dijadikan tujuan.

Setiap orang punya karakter dalam berdiskusi dan menggunakan media sosialnya. Katakanlah di Twitter, orang memiliki cara berbeda dalam ngetwit. Inilah yang menyebabkan Twitter menjadi banyak warna. Twitter menjadi sarana orang berbagi informasi dan terutama ilmu. Kredibilitas akun bisa tercoreng manakala sering membagi informasi palsu (hoax). Orang pun akan lebih percaya dengan akun yang berbagi informasi serta ilmu bermanfaat. Tak perlu terlalu berat dalam menggunakan media sosial, cukup berbagi dengan apa yang dikuasai. Dan bila masih belum mampu, tak ada salahnya hanya menggunakan media sosial sebagai alat berinteraksi dengan banyak orang.

Kembali ke masalah popularitas, bila kita telusuri, media sosial merupakan tempat berkumpul satu sama lain. Jika diibaratkan, media sosial merupakan sebuah aula tempat bertemu (meeting) satu sama lain. Nah, dari situ sebenarnya ada yang memainkan peran sebagai expert, pun ada yang bisa sekedar melengkapi ataupun mengambil pelajaran. Semua memiliki peran sendiri-sendiri. Dan menurut saya, dengan analogi tersebut, bila membeli follower, seolah kita menggunakan jasa penonton bayaran. Popularitas seolah semu, apalagi jika didapat dengan cara curang menjiplak karya orang lain.

Follower Bukan Segalanya

Mungkin memang bila populer di media sosial dengan begitu banyak followe menimbulkan keuntungan tersendiri. Akun dengan banyak follower identik dengan akun asli, baik dan kadang bisa digunakan untuk mencari keuntungan. Namun, yang lebih penting, kembali ke fungsi ataupun peran media sosial, selayaknya akun yang dimiliki hendak hidup untuk berinteraksi dan berbagi apapun.

Kembali ke fungsi sebenarnya media sosial, untuk berinteraksi. Akun yang hidup yang terjalin interaksi dan digunakan sebagai media saling berbagi merupakan salah satu keunggulan perkembangan di media sosial. Bila hanya digunakan mencari follower dengan menggunakan avatar cantik misalnya ataupun follower bayaran, namun posting ataupun status yang ditulis hanya bersifat satu arah ataupun sesuatu yang tak bermakna, rasanya terlalu sayang menggunakan media sosial untuk hal-hal remeh seperti itu. Apalagi bila setelah memiliki banyak follower, akun tersebut kemudian dijual.

Tak salah memiliki akun dengan banyak follower. Namun, hendaknya follower banyak tersebut bisa dimaksimalkan dan dimanfaatkan untuk berinteraksi dan saling berbagi. Makin banyak teman dan follower yang kita miliki bisa menjadi aset untuk menjaring sebuah komunitas yang lebih hidup di media sosial. Dengan cara demikian, media sosial tak lagi bersifat monoton, namun bisa tercipta tempat diskusi yang menyenangkan. 

Orang memfollow sebuah akun, bisa dengan harapan mendapatkan manfaat dari followingnya tersebut, maka manfaatkanlah. Dengan memanfaatkan follower banyak kita untuk saling berdiskusi maka terciptalah media sosial yang bermanfaat, bukan sekedar hal untuk mencari popularitas semata.

Seperti disinggung diatas, media sosial merupakan sarana untuk saling berbagi. Bila sesuai dengan peruntukannya, media sosial sarat dengan nilai-nilai positif di dalamnya. Media sosial menjadi tempat diskusi yang penuh manfaat. Namun ini semua tak akan terjadi dan hanya sesuatu yang mubazir jika hanya digunakan dengan niatan mencari popularitas saja. Nilai diskusi dan manfaat memiliki media sosial tak akan didapat. Kembali ke peran media sosial, sebagai tempat menyatakan pendapat. Dengan prinsip seperti ini, media sosial menjadikan kita dewasa untuk bisa menghargai pendapat orang lain.